06:59
Admintrator
Sebentar lagi, menguruskan badan akan semudah menelan sebutir pil karena dua jenis obat untuk obesitas menunjukkan hasil uji klinik yang menjanjikan.
Dalam penelitian, kombinasi dua jenis obat obesitas yang sudah lama di pasaran, yakni Phentermine dan topiramate, menunjukkan hasil dua kali lebih efektif dari obat orlistat yang banyak direkomendasi para dokter.
Dibandingkan dengan orlistat, kombinasi obat phentermine dan topiramate ini memiliki manfaat lebih yakni meningkatkan indikator seperti gula darah, tekanan darah, kolesterol serta inflamasi.
Topiramate sendiri merupakan obat yang diresepkan dokter untuk mengatasi migren dan kelainan saraf. Obat ini juga menunjukkan hasil efektif untuk penurunan berat badan pasien obesitas yang menderita diabetes tipe 2. Tetapi jika obat ini dikonsumsi sendiri bisa menimbulkan efk samping gangguan psikiatri.
Ketika obat ini dikonsumsi dalam dosis rendah dan dikombinasikan dengan obat lain ternyata efek samping itu bisa dikurangi. Untuk mengetahui kemampuan obat ini mengatasi obesitas, tim peneliti dari Amerika melakukan penelitian selama 20 bulan terhadap 2.500 orang yang kegemukan dan memiliki sedikitnya dua gejala penyakit.
Pasien kemudian dibagi dalam 3 kelompok yang masing-masing menerima dosis obat yang berbeda. Pada kelompok ketiga diberikan obat plasebo.
Setelah 56 minggu, pasien yang diberikan dosis kombinasi phenteramine dan topiramet dosis rendah mengalami penurunan berat badan hingga 8,1 kg, sementara kelompok dosisi tinggi berat badannya susut hingga 10,2 kg. Sedangkan pasien dari kelompok pasien hanya turun 1,4 kg. Penelitian lebih lanjut akan dilakukan untuk menguji efektivitas dan keamanan obat-obatan tersebut.
Sumber : http://health.kompas.com/
01:55
Admintrator
 | |
Saat ingin menurunkan berat badan, seseorang diharuskan untuk menghitung berapa indeks massa tubuhnya (BMI). Karena hasil dari perhitungan BMI ini bisa menentukan apakah seseorang sudah ideal, kurus atau termasuk kelebihan berat badan.
Cara untuk menghitung nilai indeks massa tubuh berdasarkan nilai tinggi dan berat badan yang dimiliki. Perhitungan ini berlaku sama untuk laki-laki maupun perempuan.
Seperti dikutip dari BBC, Jumat (8/1/2010), cara menghitungnya dengan mengkuadratkan nilai tinggi badan (dalam satuan meter). Lalu nilai berat badan (dalam satuan kilogram) dibagi hasil kudrat dari tinggi badan tersebut.
Misalnya seseorang perempuan berusia 30 tahun memiliki berat badan 60 kg dan tinggi badan 160 cm (1,6 meter). Cara menghitungnya pertama kali mengkuadratkan tinggi badan 1,6 X 1,6 hasilnya 2,56. Lalu nilai berat badan dibagi hasil perkalian dari tinggi badan yaitu 60 : 2,56 hasilnya 23,43. Berarti nilai BMI dari perempuan tersebut sebesar 23,43 dan masuk ke dalam kelompok ideal/normal.
Kategori BMI adalah:
-
Nilai indeks massa tubuh kurang dari 19 tergolong ke dalam kelompok kurus.
-
Nilai 19-24,9 masuk ke dalam kelompok ideal.
-
Nilai antara 25-29,9 masuk kelompok kelebihan berat badan (gemuk).
-
ika mencapai nilai 30 atau lebih maka orang tersebut masuk ke dalam kelompok obesitas.
Risiko kesehatan akan bertambah besar jika seseorang memiliki nilai indeks massa tubuh 25 atau lebih. Karena akan semakin besar kemungkinan orang tersebut terkena penyakit jika tidak diimbangi dengan pola hidup sehat dan berolahraga.
Risiko kesehatan yang kemungkinan dimiliki oleh orang dengan nilai indeks massa tubuh di atas 25 adalah tekanan darah tinggi, kolesterol, penyakit jantung, stroke, diabetes, arthritis, sakit pinggang atau juga berhubungan dengan psikologisnya.
Bagi yang memiliki indeks massa tubuh besar tidak ada salahnya untuk mulai melakukan diet yang sehat dengan mengurangi asupan kalori, perbanyak aktivitas fisik, menerapkan pola hidup yang sehat atau dengan berkonsultasi ke dokter gizi.
BMI merupakan salah satu alat untuk mengetahui apakah seseorang perlu melakukan diet atau tidak, tapi BMI ini hanya untuk melihat kelebihan berat badan akibat lemak. Jadi untuk orang yang berotot, atletis, ibu hamil, pembacaan BMI mungkin akan kurang tepat. (ver/ir)
Sumber : detikHealth (8 Januari 2010)
17:56
Admintrator
| Galveston, Texas, Gaya hidup moderen telah mengubah pandangan orang tentang kegemukan, bahkan di kalangan perempuan yang umumnya lebih sensitif soal penampilan. Penelitian membuktikan 1 dari 4 perempuan gemuk tidak merasa ada masalah dengan berat
badannyaPenelitian yang dilakukan di University of Texas Medical Branch di Galveston ini melibatkan 2.200 orang dewasa dalam usia produktif, antara 20-39 tahun. Lebih dari setengahnya memiliki indeks masa tubuh di atas normal.
|
| Foto : Bazaar Design | |
Secara umum terungkap 30 persen orang dewasa yang overweight merasa berat badannya masih normal. Sekitar 70 persen penderita obesitas menganggap dirinya hanya overweight, sementara 39 persen penderita obesitas hanya menganggapnya sebagai overweight parah.
Seoeran ilmuwan yang memimpin penelitian itu, Mahbubur Rahman menganggap penyebabnya adalah perubahan norma dan gaya hidup moderen. Di masa kini, punya tubuh gemuk sudah dianggap sebagai hal yang normal dan tidak perlu dikhawatirkan.
"Di manapun, kita bisa menemukan orang yang overweight namun menganggap wajar kelebihan berat badan yang dialaminya," ungkap Rahman seperti dikutip dari Healthday, Selasa (23/11/2010). Kecenderungan ini berlaku juga pada kaum perempuan, yang umumnya sangat memperhatikan bentuk dan berat badan. Terungkap dalam penelitian ini, hanya sedikit perempuan yang merasa berat badannya terlalu gemuk.
Di antara para responden perempuan yang mengalami overweight, 23 persen di antaranya menganggap berat badannya lebih rendah dari yang sesungguhnya. Hanya sekitar 16 persen responden perempuan dengan berat badan normal yang menganggap dirinya terlalu gemuk.
Selain mengganggu penampilan, kelebihan berat badan juga merupakan faktor risiko berbagai penyakit serius seperti diabetes dan berbagai masalah jantung dan pembuluh darah. Kegemukan yang hanya terjadi di perut atau obesitas sentral lebih berbahaya dibanding kegemukan yang merata di seluruh tubuh.
Sumber: detikHealth